MedanBisnis – Medan. Perburuan dan perdagangan ilegal harimau sumatera telah menjadi penyebab terbesar menurunnya populasi harimau sumatera. Selain itu juga dipicu maraknya perdagangan illegal satwa yang bahkan merugikan negara hingga Rp9 triliun per tahun.
Hal tersebut terungkap dalam seminar Konservasi Harimau Sumatera di aula unit 1 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Minggu (12/5). 

“Dari data Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Indonesia mengalami kerugian lebih dari Rp 9 Triliun per tahun akibat perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi. Nilai perdangangan ilegal satwa liar seluruh dunia jauh lebih mencengangkan, yaitu berkisar US$ 10-20 miiliar per tahun. ilai ini merupakan terbesar kedua setelah bisnis narkoba,” kata staf peneliti Wildlife Conservation Society (WCS) Adnun Salampessy, yang menjadi pemakalah dalam seminar tersebut,

Sedangkan menurut data Wildlife Crimes Unit (WCU), lanjutnya, lebih dari 80% satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam dan bukan hasil penangkaran, serta lebih dari 90% tangkapan di alam tanpa melalui izin tangkap dan izin peredaran.

Pembicara lainnya, Manajer Program Program WIldlife Crime Unit - WCS, Dwi Adihasto, mengatakan, kemajuan teknologi informasi ternyata membawa dampak buruk bagi perlindungan sub-species harimau terakhir yang dimiliki Indonesia ini. Internet, katanya, menjadi modus baru perdagangan satwa liar, sehingga transaksi antara pemburu dan pedagang serta konsumen semakin sulit terdeteksi.

"Sejak tahun 2011 hingga Maret 2013, sebanyak 18 kasus perdagangan online terungkap, 10 di antaranya adalah perdagangan harimau sumatera. Dari kasus-kasus yang terungkap tersebut, empat kasus di antaranya sudah divonis penjara," ujarnya.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Andi Basrul mengatakan, dari data yang telah dihimpun, seluas 143.734,87 hektar kawasan TNGL yang telah terdegradasi dan mengancam kelestarian harimau sumatera. 

TNGL sendiri, kata dia, telah ditetapkan menjadi warisan dunia dan menjadi bagian dari Tiger Conservation Landscape (TCL) Leuser-Ulu Masen yang merupakan habitat harimau terbesar di dunia. Namun, pada kenyataannya TNGL saat ini kondisinya mengkhawatirkan akibat perambahan lahan. 

"Perlu adanya upaya konservasi yang menyeluruh, baik pengamanan populasi yang tersisa maupun restorasi kawasan TNGL. Keterlibatan lebih banyak lagi pihak baik pemerintah, pemerintah daerah maupun LSM dan Mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian ekosistem leuser," jelasnya. (dewantoro)

Posted in: Terrestrial

Related Images

Kerugian Perdagangan Ilegal Satwa Capai Rp 9 Triliun.

Copyright 2007-2017 by Wildlife Conservation Society

WCS, the "W" logo, WE STAND FOR WILDLIFE, I STAND FOR WILDLIFE, and STAND FOR WILDLIFE are service marks of Wildlife Conservation Society.

Contact Information
Address: 2300 Southern Boulevard Bronx, New York 10460 Phone Number: (718) 220-5100