KOMPAS.com - Lengking tangkasi pula yang membawa kami menyusuri Cagar Alam Gunung Tangkoko-Batuangus di Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada dini hari itu. Masih pukul 04.00 ketika kami memulai perjalanan dari penginapan kecil di tepi hutan.

Medan yang awalnya datar mulai menanjak. Pohon beringin dan cempaka berderet kokoh di sekelilingnya. Alfons Wodi (33), pegawai penginapan sekaligus penunjuk jalan, mengingatkan kami agar menghindari pohon tumbang dan membusuk. ”Awas, hati-hati kalau menginjak kayu lapuk. Banyak gonone,” ujar Alfons.

Gonone (ciger) adalah hewan sejenis kutu berkaki buku yang hidup di kayu lapuk, bisa menimbulkan rasa gatal dan panas di kulit hingga beberapa hari. Bekas hitam akibat gigitan gonone baru akan hilang dalam beberapa bulan. Walaupun kami menghindari kayu lapuk sebagaimana disarankan Alfons, tetap saja kami mendapat oleh-oleh berupa bentol-bentol merah di kaki karena gigitan gonone.

Jalan setapak itu berujung di pohon beringin (Ficus sp) raksasa yang bagian tengah batangnya berongga. ”Inilah rumah tangkasi,” bisik Alfons. Selain beringin, tangkasi atau juga dikenal sebagai tarsius biasa tinggal di pohon kayu telur (Alstonia sp) yang umumnya berongga.

Waktu terbaik untuk melihat tangkasi adalah menunggu di depan sarang menjelang Matahari terbit dan saat Matahari tenggelam. ”Tarsius bersarang di pohon- pohon berongga. Biasanya rongga terbentuk karena pohon induk mati setelah ditumpangi pohon lain,” ujar Johny Tasirin, peneliti senior dari Wildlife Conservation Society Sulut, yang mendampingi kami pagi itu. Kebanyakan pohon penumpang itu jenis beringin sehingga biasa disebut ”beringin pencekik”.

Suasana di sekitar sarang tarsius gelap gulita. Alfons meminta kami agar tidak bersuara. Kondisi gaduh dan sinar yang terlalu terang akan mengganggu kepulangan tarsius ke sarang. ”Matikan semua lampu,” Alfons berbisik. Suasana temaram dan hening selama beberapa menit, sampai akhirnya muncul lengkingan memekakkan telinga.

”Ciiit....ciiit...ciiit..,” tiba-tiba saja seekor tangkasi hinggap di rongga beringin, persis di depan kami. Binatang nokturnal, yang aktif mencari makan di malam hari, itu hanya sebesar kepalan tangan. Matanya yang bulat membelalak. Konon mata tangkasi sebesar otaknya. Telinga menghadap ke depan, sedangkan telapak kakinya atau tarsal yang kecil dan panjang mengait erat di batang kayu.

”Nama tarsius memang diambil dari ciri fisik tubuh mereka yang unik, yaitu tulang tarsal yang memanjang sehingga dapat melompat hingga tiga meter,” kata Terry Repi, peneliti tarsius dari Universitas Sam Ratulangi, Manado.

Lengkingan tinggi itu kemudian dijawab dari kejauhan dengan suara yang sama. Kata Terry, suara binatang pemakan serangga itu merupakan komunikasi antara tarsius jantan dan betina. Para peneliti menyebutnya sebagai duet call, yaitu panggilan ”rahasia” yang diberikan tarsius jantan kepada pasangannya untuk menginformasikan keadaan sekeliling.

”Sang jantan akan lebih dulu memeriksa kondisi sarang. Jika aman dari predator, pejantan akan memberikan kode kepada pasangan dan anak-anaknya,” katanya.

Selain sandi suara yang unik, tarsius juga mengandalkan suara ultrasonik yang hanya bisa didengar kalangan mereka sendiri. Marissa A Ramsier dalam publikasinya di Biology Letters berjudul Primate Communication in the Pure Ultrasound (2012) menyebutkan, frekuensi suara ultrasonik tarsius seolah membentuk kanal komunikasi rahasia untuk menghindari deteksi predator.

Panggilan tarsius memiliki frekuensi suara paling tinggi di antara mamalia darat lainnya, bahkan secara umum termasuk jajaran suara ultrasonik ekstrem tinggi. Lengkingan suara tarsius mencapai 91 khz. Suara yang bisa diterima telinga manusia maksimal adalah 20 khz, di atas 20 khz dikategorikan sebagai ultrasonik.

Kepiawaian berkomunikasi inilah yang mungkin membuat tarsius menjadi satu-satunya anggota dalam ordo Tarsiiforme purba yang masih bertahan. Selama 45 juta tahun, bentuk tarsius dianggap tetap sama. Binatang pemakan serangga ini hanya berubah ukuran.

Selain di Sulawesi, primata terkecil di dunia ini juga bisa ditemui di Filipina dan Kalimantan. Penyebarannya yang unik karena bisa ditemui di timur dan di barat garis Wallace ini diduga terkait asal-usulnya sejak sebelum zaman es mencair.

Seiring terbitnya Matahari, binatang malam itu pun menghilang ke dalam sarangnya. Alfons lalu mengajak kami ke sarang burung rangkong. Hanya 15 menit berjalan kaki dari sarang tarsius, kami tiba di depan pohon setinggi 40 meter. Gemuruh kepak sayap memecah kesunyian Batuputih.

Seekor rangkong jantan mendarat di mulut lubang di batang pohon. Paruhnya yang panjang menyimpan banyak biji-bijian dan segera disuapkan ke mulut sang betina yang tengah mengerami telur. ”Saat musim mengerami, rangkong jantan setia memberi makan pasangannya, setiap pagi dan sore,” kata Alfons.

Tak jauh dari sarang rangkong, sepasang kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus) dan burung pelatuk (Scolopax celebensis) tengah mencari makan di pepohonan yang menjulang tinggi. Seekor cicak terbang merah (Draco sp) menempel di batang pohon. Bentuknya menyerupai iguana dengan tubuh berwarna hijau dan strip kuning di bagian leher.

Sekitar pukul 09.00, Alfons membawa kami ke habitat monyet hitam sulawesi (Macaca nigra) atau yang dikenal sebagai yaki. Di tepi sungai, Antri (34), jagawana, bersiul untuk menarik perhatian yaki. Tak lama kemudian muncul tiga ekor monyet berwarna hitam legam, potongan rambut berjambul bergaya mohawk, dan ekor yang nyaris tak terlihat. ”Yang depan itu pejantan pemimpin kelompok,” kata Antri, yang telah 10 tahun mengenal kawanan yaki itu.

Begitu melihat kami, tiga ekor yaki itu segera berbalik pergi. Mereka berjalan lambat, seperti menunggu kami. Antri mengajak mengikuti ketiga ekor yaki itu. ”Mereka akan mengarahkan kita menuju kawanannya,” kata Antri. Benar saja, tak jauh dari pintu masuk Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, sekitar 50 ekor yaki berpesta buah kelapa.

Sebagian pejantan dengan tangkas memanjat kelapa. Buah yang jatuh segera menjadi santapan yaki betina. Sambil menggendong anak, para betina berebut kelapa. Sedangkan pemimpin kelompok, pejantan yang ”menjemput” kami, lebih banyak duduk memantau polah kelompoknya. Sesekali dia mengejar anggota kelompok yang mengganggu sesamanya.

Menjelang tengah hari, sang pejantan memimpin kawanan kembali ke dalam hutan. Perjumpaan dengan enam satwa liar yang khas dalam enam jam perjalanan di Tangkoko itu memuaskan Adam Wilkinson (30), pengunjung asal Inggris dan rekannya dari Brasil, Marcello Doroso (32). ”Tak percuma saya datang jauh-jauh ke Tangkoko. Kondisi hutan hujan tropis yang masih terjaga membuat satwa endemis mudah ditemui,” kata Adam.  

Posted in: Terrestrial, Maleo

Related Images

Lengking Tangkasi di Tangkoko

Copyright 2007-2017 by Wildlife Conservation Society

WCS, the "W" logo, WE STAND FOR WILDLIFE, I STAND FOR WILDLIFE, and STAND FOR WILDLIFE are service marks of Wildlife Conservation Society.

Contact Information
Address: 2300 Southern Boulevard Bronx, New York 10460 Phone Number: (718) 220-5100