Ternate, 15 Desember 2016 – Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) melepasliarkan 117 ekor burung paruh bengkok di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara pada hari ini, Kamis, 15 Desember 2016. Burung yang dilepasliarkan tersebut terdiri dari 40 ekor Burung Kakatua putih (Cacatua alba), 28 ekor Nuri bayan (Eclectus roratus) dan 49 ekor Burung Kasturi Ternate (Lorius garrulus). Satwa-satwa ini diperoleh Seksi Konservasi Wilayah I Ternate dari operasi penegakan hukum untuk mengurangi perburuan, penyelundupan, dan pemeliharaan illegal satwa liar.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, Lilian Komaling, S.Hut menyatakan, “Kegiatan pelepasliaran burung-burung ini ke alam merupakan upaya kami agar ekosistem tetap terjaga dengan baik serta mengembalikan dan meningkatkan populasi ketiga spesies burung tersebut. Pelepasliaran burung kami lakukan di Halmahera Selatan karena kawasan ini merupakan habitat alami Burung  Nuri bayan, Kakatua putih dan Kasturi Ternate. Burung Nuri bayan telah dilindungi oleh UU no. 5/ 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan masuk dalam daftar Lampiran Jenis Tumbuhan dan Satwa dilindungi pada Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.”

AKBP Kamal Bahtiar, S.IK, Kapolres Ternate, menyatakan, “Kami membantu melakukan penegakan terhadap pelaku yang terlibat pada penyelundupan burung sehingga terjaga ekosistemnya. Kami juga telah melakukan kegiatan antisipasi, giat deteksi serta koordinasi dengan pihak BKSDA agar burung tersebut dapat hidup normal dan kembali ke habitatnya. Pihak Kepolisian akan menindaklanjuti setiap kasus sampai dengan penyerahan berkas ke Kejaksaan dalam rangka keseriusan POLRI dalam menindak para pelaku yang melanggara aturan lingkungan hidup dan ekosistemnya.”

Ketiga jenis burung tersebut merupakan burung endemik Indonesia dan memiliki sebaran di Indonesia bagian timur seperti pulau Morotai, Halmahera, Bacan dan Obi serta Ternate dan Tidore. Menurut Daftar Merah IUCN 2016, Kakatua putih sudah masuk dalam kategori terancam (endangered), sedangkan Burung Kasturi Ternate termasuk dalam kategori rentan (vulnerable) dan Burung Nuri bayan masih dalam kategori resiko rendah (least concern). Namun perburuan dan perdagangan yang tidak terkendali dapat menyebabkan berkurangnya populasi burung-burung tersebut di alam.

Dwi Adhiasto, Wildlife Trade Program Manager WCS-IP menambahkan, “Burung-burung tersebut tidak hanya diperdagangkan di pasar domestik saja, namun juga ke mancanegara. Jalur utama yang diketahui adalah menuju ke Filipina melalui pelabuhan laut di Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Meskipun ketiga spesies tersebut masuk dalam daftar CITES Appendix II yang artinya dapat diperdagangkan secara legal di pasar internasional, tetapi diharuskan  melalui pengaturan yang ketat. Pemerintah Indonesia sendiri telah menetapkan kuota nol terhadap ekspor burung dari alam ke luar negeri, yang artinya aktivitas pengiriman burung dari tangkapan liar keluar negeri adalah ilegal.”

Untuk memastikan kondisi kesehatan dan menghindari penularan penyakit, burung-burung tersebut telah diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan dari Balai Karantina Hewan Kelas II Ternate. Dari 173 ekor yang diajukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I Ternate, yang siap untuk dilepasliarkan hanya 117 ekor saja, sedangkan sisanya masih harus butuh rehabilitasi beberapa waktu lagi untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

“Kami sangat mengapresiasi aksi pelepasliaran yang dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I Ternate di habitat alami satwa ini. Tim gabungan telah memastikan kesehatan burung -burung tersebut sehingga betul-betul siap kembali ke alam. Bekerjasama dengan LIPI, kami telah menandai burung tersebut dengan sistem pemasangan ring sehingga kami dapat memonitor kelangsungan hidup burung-burung tersebut di habitatnya,” jelas Noviar Andayani, Country Director WCS-IP. 

“Dalam proses pelepasliaran satwa sebaiknya dilakukan dengan cara 'soft release'. Semua burung paruh bengkok yang dilepasliarkan telah melalui proses seleksi. Proses tersebut memerlukan beberapa tahapan, yakni test kesehatan, proses rehabilitasi dan proses habituasi di habitat aslinya. Proses habituasi ini akan dibutuhkan untuk penyesuaian satwa dengan kondisi lingkungan dan pemberian pakan alami. Pada proses ini pula dikurangi kontak langsung dengan manusia seminimal mungkin, agar insting liarnya kembali,” jelas Dudi Nandika, Ketua Konservasi Kakatua Indonesia (KKI). 

Sebagian dari satwa tersebut merupakan hasil dari kasus penyelundupan burung yang terjadi di Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate, 30 Juli 2016 yang digagalkan oleh Polres Ternate dan Polisi Kehutanan SKW I Ternate BKSDA Maluku. Dengan modus menitipkan satwa ke satpam KM Doloronda, Polisi menyita 45 ekor Burung Kakatua putih, 57 ekor Burung Nuri bayan dan empat ekor Burung Kasturi Ternate. Kini pelaku dijatuhkan hukuman denda sebesar Rp 1.000.000 dan kurungan selama empat bulan penjara. Tahun 2016 ini 2 (dua) kasus penyelundupan Satwa Burung Endemik Maluku Utara telah menjalani proses hukum, selain kasus Penyelundupan di KM. Doloronda ada lagi di Bulan Mei 2016  Penyelundupan dari Desa Ranga-ranga Kab. Halmahera Selatan menuju Filipina dan ditangkap tangan oleh Petugas Polisi Perairan POLDA MALUT dengan jumlah yang sangat besar antara lain : Kakatua Putih 56 (lima puluh enam) ekor, Nuri Bayan 159 (seratus lima puluh sembilan) ekor, Nuri Ternate 3 (tiga) ekor dan Perkici 1 (satu) ekor dan telah di lepasliarkan oleh Seksi KW I Ternate di Pulau Bacan Kab Halmahera selatan pada tanggal 3 dan 4 Juni 2016, Pelaku sementara menunggu putusan dari tuntutan 8 (delapan) bulan penjara dan denda 10 juta rupiah.

Dari 49 ekor Burung Kasturi Ternate, 43 di antaranya adalah temuan Polres Halmahera Utara dan lainnya adalah temuan Polhut. Sedangkan, dari 40 ekor Burung Kakatua putih, 39 di antaranya adalah sitaan dari kasus KM Doloronda dan lainnya adalah temuan di kalangan masyarakat. Untuk 28 ekor Nuri bayan, 20 ekor merupakan sitaan dan 8 ekor lainnya temuan di masyarakat.

Posted in: Press Releases

Related Images

Ratusan Burung Paruh Bengkok Dilepasliarkan oleh Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Maluku

Copyright 2007-2017 by Wildlife Conservation Society

WCS, the "W" logo, WE STAND FOR WILDLIFE, I STAND FOR WILDLIFE, and STAND FOR WILDLIFE are service marks of Wildlife Conservation Society.

Contact Information
Address: 2300 Southern Boulevard Bronx, New York 10460 Phone Number: (718) 220-5100