Medan, 29 Maret 2016 – Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan kawasan konservasi yang juga menjadi destinasi pariwisata di Sumatera Utara. Bukit Lawang dan Tangkahan merupakan dua tempat yang menjadi primadona pariwisata wilayah yang ditunjuk oleh UNESCO sebagai Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) ini. Tangkahan yang berada Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Prov. Sumatera Utara memiliki daya tarik utama gajah sumatera. Pengunjung dapat memandikan gajah sekaligus menikmati petualangan berpatroli bersama gajah dan pelatihnya menyusuri Tangkahan. Sedangkan di Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, pengunjung dapat melihat orangutan semi liar hasil rehabilitasi di habitatnya secara langsung.

Saat ini pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang diperolah BBTNGL dari retribusi harian pengunjung dari sektor pariwisata adalah sekitar Rp. 600 juta per tahun, dengan perputaran uang sebesar Rp 20 milyar di Tangkahan setiap tahun dan Rp 30 milyar di Bukit Lawang. Kegiatan wisata alam di Bukit Lawang dimulai sekitar tahun 1980-an, sedangkan di Tangkahan terjadi sejak tahun 2002. Khusus di Tangkahan, pengelolaan ekowisata dilaksanakan oleh masyarakat Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang yang tergabung dalam Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang menandatangani kerja sama (MoU) pengelolaan ekowisata di Tangkahan dengan BBTNGL (dahulu BTNGL-pen). 

Andi Basrul, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) mengatakan, “Awalnya, kebanyakan dari masyarakat di Tangkahan adalah pelaku pembalakan liar, namun pada awal tahun 2000-an kondisi tersebut mulai berubah. Masyarakat menyadari pentingnya menjaga alam dan satwa di dalamnya sebagai bagian dari hidup mereka dan kini mereka mendapatkan keuntungan ekonomi dari aktivitas ekowisata ini. Saya harap, di masa depan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan masyarakat terus menjaga kepercayaan TNGL untuk dapat memanfaatkan sekaligus melindungi hutan dan satwa langka di dalamnya.”

Selain melihat satwa tersebut, pengunjung dapat menikmati keindahan panorama hutan dengan trekking maupun melakukan aktivitas tubing alias menyusuri sungai dengan ban. Untuk tiket masuk, para pengunjung dipungut biaya sebesar Rp 5.000 di hari biasa dan Rp 7.500 di akhir pekan, sedangkan turis mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp 150.000 dan Rp 225.000 di akhir pekan. Hingga saat ini, pengunjung yang datang ke TNGL kebanyakan adalah turis mancanegara yang ingin melihat orangutan maupun gajah yaitu sebesar 90% sedangkan pengunjung lokal hanya sekitar 10%.

Sabtu lalu, Noviar Andayani, Country Director Wildlife Conservation Society – Indonesia Program bersama dengan delapan rekannya dari berbagai latar belakang di pemerintahan maupun swasta melakukan kunjungan ke TNGL, yakni ke Tangkahan dan Bukit Lawang. Rekan-rekannya tersebut adalah Hendri Saparini – anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dan komisaris PT Telkom, Destry Damayanti – Anggota Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) & mantan Ketua Pansel KPK, Esti Andayani – Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Luar Negeri, Judith Dipodiputro – Ketua Pokja Papua, Meizani Irmadiani – Direktur PT Royal Lestari Utama (joint venture PT Barito Pacific & Michelin Group), Shelvy Arifin – Direktur Utama Perum Produksi Film Negara, Diah Bisono – praktisi komunikasi dan Direktur SAJI Indonesia, dan Aurina Setyawitta Wardhani – Executive Director International Award for Young People. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memberikan gambaran kepada para praktisi dari berbagai bidang mengenai isu konservasi dan permasalahan di taman nasional. Lewat kunjungan ini diharapkan perhatian terhadap konservasi tidak hanya datang dari para penggiat konservasi tetapi juga dari bidang lainnya seperti ekonomi, komunikasi, dan sosial.

Destry Damayanti, anggota dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan sekaligus mantan ketua pansel KPK mengatakan di sela-sela kunjungannya ke TNGL, “TNGL merupakan peluang potensi pariwisata yang dimiliki oleh Indonesia, yang harus menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia. Saat ini Presiden juga sedang fokus untuk meningkatkan sektor pariwisata. Namun, agar hasilnya maksimal, sektor ini harus didukung dengan kesiapan masyarakat yaitu sumber daya manusia dan infrastruktur. Saya melihat akses ke Tangkahan masih cukup sulit, terutama dengan jalanan yang rusak karena beban berat dari truk pengangkut kelapa sawit. Pemerintah setempat harus membuat kebijakan untuk mengatur ini, agar industri perkebunan kelapa sawit tidak mematikan sektor lainnya, dalam hal ini sektor pariwisata.”

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan blok hutan terbesar di Sumatra bagian utara dan merupakan salah satu Hutan Tropis Warisan Dunia (UNESCO). Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser seluas 1.095.592 hektar ini dihuni oleh sejumlah satwa kunci Sumatra seperti harimau, gajah, badak dan orangutan juga telah mengalami penyusutan sebagai hasil penyesuaian Rencana Tata Ruang dan Wilayah di Sumatra Utara dan Aceh. Satwa-satwa penting atau yang sering disebut satwa kunci memiliki peran yang vital bagi keberlangsungan dan keseimbangan ekosistem. Namun, keberadaan satwa kunci di Taman Nasional ini terus menerus berkurang dengan meningkatnya deforestasi, perburuan dan perdagangan secara signifikan.

Noviar Andayani, Country Director Wildlife Conservation Society – Indonesia Program berujar, ”Kegiatan konservasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak Taman Nasional beserta mitra organisasi non-pemerintah saja, tetapi harus melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional. Bukit Lawang dan Tangkahan menjadi contoh bahwa masyarakat dapat tinggal berdampingan dengan alam, bahkan mendapatkan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung dari hutan dan satwa yang berada di dalamnya.”

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan kekayaan alam yang secara terus-menerus memberikan manfaat “jasa lingkungan” terhadap kehidupan manusia, terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Taman Nasional berfungsi sebagai tempat penyimpan cadangan air, pengendali iklim mikro, dan penyerap karbon. Mempertahankan keberadaan hutan kadang juga dipandang sebagai hal yang menghalangi pembangunan, namun sumberdaya alam dan jasa lingkungan inilah yang sebenarnya menjadi penyokong kehidupan. 

Posted in: Press Releases

Related Images

Taman Nasional Gunung Leuser: Konservasi dan Pariwisata yang Berjalan Beriringan

Copyright 2007-2017 by Wildlife Conservation Society

WCS, the "W" logo, WE STAND FOR WILDLIFE, I STAND FOR WILDLIFE, and STAND FOR WILDLIFE are service marks of Wildlife Conservation Society.

Contact Information
Address: 2300 Southern Boulevard Bronx, New York 10460 Phone Number: (718) 220-5100